NOTE! This site uses cookies and similar technologies.

If you not change browser settings, you agree to it.

I understand

SDGs for All

SDGs for All is a joint media project of the global news organization International Press Syndicate (INPS) and the lay Buddhist network Soka Gakkai International (SGI). It aims to promote the Sustainable Development Goals (SDGs), which are at the heart of the 2030 Agenda for Sustainable Development, a comprehensive, far-reaching and people-centred set of universal and transformative goals and targets. It offers in-depth news and analyses of local, national, regional and global action for people, planet and prosperity. This project website is also a reference point for discussions, decisions and substantive actions related to 17 goals and 169 targets to move the world onto a sustainable and resilient path.

Bukan Keyakinan, melainkan Manipulasi Umat Beragama di Balik Serangan Kebencian

Oleh Sean Buchanan

NEW YORK (IDN) – Menyusul serangkaian serangan kebencian baru-baru ini di berbagai tempat ibadah di seluruh dunia, sebuah forum dialog antar budaya pada tanggal 2 Mei mengatakan bahwa “dalam semua serangan keji dan pengecut ini... kita melihat pola umum: kebencian terhadap ‘agama lain’. Para penjahat ini membajak seluruh komunitas agama, mengadu domba satu sama lain.”

Miguel Angel Moratinos, Perwakilan Tinggi untuk Aliansi Peradaban (UNOAC), yang berpidato di Forum Dunia ke-5 tentang Dialog Antar Budaya yang didukung PBB di Baku, Azerbaijan, mengatakan bahwa keyakinan tidak pernah menjadi masalah, masalahnya adalah “mereka yang memanipulasi umat beragama sehingga mereka berseteru satu sama lain dengan interpretasi mereka yang menyesatkan terhadap ayat-ayat suci.”

“Hubungan yang bergejolak antara konflik yang berkepanjangan, terorisme, dan ekstremisme kekerasan tetap menjadi tantangan yang berkelanjutan bagi komunitas internasional,” ujarnya, seraya mengatakan bahwa ekstremis brutal berusaha untuk “memecah-belah dan menyebarkan ketidakstabilan dalam masyarakat kita”.

Moratinos mengatakan tema Forum ke-5 – Membangun Dialog menjadi aksi melawan diskriminasi, ketidaksetaraan & ekstremisme kekerasan – sangat tepat waktu karena mereka yang berkumpul di Forum tidak akan ragu untuk merefleksikan “serangan teroris yang mengerikan” yang telah terjadi selama beberapa hari dan beberapa bulan terakhir.

“Saya berdiri di hadapan Anda sekalian pada hari ini dengan berat hati,” ujar Moratinos, menjelaskan bahwa sehari sebelumnya ia berada di Kolombo, Sri Lanka, tempat di mana ia memberikan penghormatan kepada para korban serangan teroris terhadap Gereja-Gereja Katolik dan hotel-hotel yang mengakibatkan sekitar 250 nyawa melayang pada hari Minggu Paskah.

Mengutip “serentetan kejahatan rasial dan serangan teroris” yang menargetkan tempat-tempat ibadah, Moratinos mengatakan ini adalah pengingat yang jelas bahwa “tidak ada agama, negara, atau etnis yang terkecuali” dari kekerasan yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata.

Dia ingat bahwa sebuah sinagoga di California diserang pada saat para penyembah Yahudi sedang merayakan hari terakhir Paskah, dan pada tahun lalu telah terjadi penembakan mematikan di sebuah sinagoga di Pittsburg. Insiden-insiden ini terjadi di tengah-tengah kekerasan serupa, termasuk serangan terhadap sebuah katedral di Filipina, serta pembantaian pada bulan April terhadap umat Muslim yang sedang beribadah di dalam masjid-masjid di Christchurch, Selandia Baru.

Menurut Moratinos, platform media sosial hanya menambahkan “bahan bakar ke dalam api amarah”, bersama dengan web gelap, yang menawarkan ruang bagi radikal, supremasi kulit putih, dan pendukung sayap kanan untuk “memuntahkan ideologi mereka yang terpelintir”.

Ia menyatakan bahwa mencegah kekerasan ekstremisme dan memastikan perdamaian berkelanjutan adalah tujuan yang saling melengkapi dan saling menguatkan.

“Pentingnya dialog sebagai alat yang paling mendasar untuk pencegahan konflik dan mencegah ekstremisme kekerasan tidak dapat dilebih-lebihkan,” tegasnya.

Moratinos menyoroti peran kaum muda dalam memberikan kontra-narasi untuk ekstremisme kekerasan melalui keterlibatan komunitas mereka, mempromosikan dialog antar-budaya dan antar-agama serta melawan ujaran kebencian melalui penggunaan media sosial yang positif.

“Bagaimanapun, kaum muda ini merupakan harapan kami tidak hanya untuk masa depan tetapi juga untuk masa kini,” ujarnya. “Pekerjaan mereka menanggapi rekomendasi yang diuraikan dalam studi kemajuan terbaru tentang 'kaum muda, perdamaian, dan keamanan' yang diamanatkan oleh Dewan Keamanan PBB berdasarkan Resolusi 225 dan Rencana Aksi Untuk Mencegah Ekstremisme Kekerasan”.

Dalam sambutan pembukaannya, Nada Al-Nashif, Asisten Direktur Jenderal untuk Ilmu Sosial dan Manusia di Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO), menekankan pentingnya mempromosikan dialog antar-budaya dan rasa saling pengertian.

Memperhatikan bahwa Proses Baku diluncurkan oleh Azerbaijan lebih dari 10 tahun yang lalu untuk membangun dialog yang efektif dan efisien antara budaya dan peradaban, ia mengatakan bahwa sementara “kita telah menempuh jalan yang panjang”, ada kebutuhan untuk fokus dan menindaklanjuti dengan tindakan yang konkret untuk menciptakan kontinuitas dan dampak.

Dia menunjuk kekuatan-kekuatan baru yang muncul dari divisi yang menyebarkan kebencian, intoleransi, dan ketidakpedulian.

Pada saat keragaman budaya berada di bawah ancaman dari tekanan populisme eksklusif, ia mencatat bahwa “dunia sedang menghadapi krisis pengungsi dan pemindahan terbesar dalam sejarah baru-baru ini”.

 “Teknologi baru dengan potensi untuk menghubungkan individu dan komunitas dengan lebih baik, disalahgunakan untuk menyebarkan benih-benih kebencian dan kesalahpahaman,” ujarnya.

Al-Nashif menekankan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan inklusi dan kohesi dalam masyarakat yang mengalami “transformasi mendalam, terkadang tidak terduga”, menambahkan bahwa mereka juga penting untuk mengkatalisasi inovasi yang diperlukan untuk memajukan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan.

 “Tantangan hari ini sangat kompleks dan tidak memedulikan batasan,” ia menegaskan. “Tidak ada ruang untuk unilateralisme atau pengucilan.”

Tujuan utama seharusnya “untuk merangkul perubahan atas dasar hak asasi manusia dan saling menghormati, untuk membentuknya dalam arah positif, guna menciptakan masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan bagi para wanita dan pria.”

Karena “dialog adalah kunci”, ia mengatakan itulah sebabnya dialog “berdiri di jantung misi UNESCO untuk membangun pertahanan perdamaian di benak para pria dan wanita”.

Al-Nashif mencatat bahwa UNESCO tanpa lelah melindungi pendidikan sebagai hak asasi manusia, menyebutnya “cara paling efektif untuk melucuti proses yang dapat mengarah pada ekstremisme kekerasan, dengan melemahkan prasangka, dengan memerangi ketidaktahuan dan ketidakpedulian ... Keragaman adalah sumber daya utama kami untuk mencapai masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.”

Ilham Aliyev, Presiden Azerbaijan, berbicara secara mendalam tentang Proses Baku, yang ia yakini dengan memusatkan perhatian internasional pada dialog antar-budaya, menyebutnya sebagai “platform yang baik dan positif untuk membuat keputusan yang tepat”.

Mengatakan bahwa proses Baku adalah “salah satu yang paling penting” antara Eropa dan seluruh dunia, maka ia menggarisbawahi: “Kita perlu dialog tentang masalah budaya, antar-agama, politik, ekonomi, dan keamanan.”

Yousef bin Ahmad Al-Othaimeen, Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam, menyesalkan bahwa hari ini dunia menyaksikan semua jenis diskriminasi.

“Terorisme tidak memiliki agama, ras atau kebangsaan”, ia menegaskan, menyebut dialog antar-budaya merupakan “suatu kebutuhan mutlak”.

Berbicara atas nama Dewan Eropa, Wakil Sekretaris Jenderal Gabriella Battaini-Dragoni berpendapat bahwa masyarakat inklusif, dengan hak dan martabat yang sama untuk semua, membutuhkan pemahaman.

“Promosi dialog antar-budaya bukanlah suatu peristiwa, ini adalah tantangan yang tidak akan pernah berakhir” yang membutuhkan pendidikan untuk meredakan kecemasan dan menghilangkan ketidaktahuan, ujarnya, menambahkan bahwa dengan datang bersama-sama, dengan jaminan bersama, pemerintah membuka jalan bagi inklusi sosial berdasarkan keinginan politik.

Abdulazia Othman Altwaijri, Direktur Jenderal Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Islam, berbicara dengan penuh semangat tentang perlunya kemauan politik untuk menciptakan keberhasilan bagi dialog antar-budaya.

Ia berkata, “Kita tidak bisa melawan bangkitnya ekstremisme tanpa kemauan politik,” menghukum para pembuat keputusan dunia – dari kekuatan super global hingga Dewan Keamanan PBB – atas ketidakmampuan mereka untuk memberikan kemajuan yang sangat dibutuhkan di garis depan ini. [IDN-InDepthNews – 05 Mei 2019]

Foto: Pemandangan Baku, Azerbaijan. Kredit: Katsuhiro Asagiri | IDN-INPS

Newsletter

Striving

Striving for People Planet and Peace 2018

Mapting

MAPTING

Fostering Global Citizenship

Partners

 


Please publish modules in offcanvas position.