NOTE! This site uses cookies and similar technologies.

If you not change browser settings, you agree to it.

I understand

SDGs for All

SDGs for All is a joint media project of the global news organization International Press Syndicate (INPS) and the lay Buddhist network Soka Gakkai International (SGI). It aims to promote the Sustainable Development Goals (SDGs), which are at the heart of the 2030 Agenda for Sustainable Development, a comprehensive, far-reaching and people-centred set of universal and transformative goals and targets. It offers in-depth news and analyses of local, national, regional and global action for people, planet and prosperity. This project website is also a reference point for discussions, decisions and substantive actions related to 17 goals and 169 targets to move the world onto a sustainable and resilient path.

Foto: "Pasar basah" di Indonesia. Kredit: Kalinga Seneviatne | INPS-IDN

Oleh Kalinga Seneviratne

SYDNEY (IDN) - Dampak positif dari pandemi COVID-19 bisa menjadi pemahaman yang lebih baik untuk melindungi keanekaragaman hayati dan larangan global terhadap perdagangan hewan liar untuk makanan.

Keyakinan bahwa COVID-19 berawal di "pasar basah" di Wuhan, Tiongkok, tempat hewan liar dijual untuk konsumsi manusia, telah membuat pemerintah Tiongkok melarang perdagangan hewan liar dan kampanye internasional yang terus berkembang sehingga ini dapat dijadikan hukum internasional yang dapat ditegakkan. 

Kredit foto: PAHO/WHO/Fernando Revilla. Sumber: WHO

Oleh Jaya Ramachadran

GENEVA (IDN) —Sebuah laporan penting berfokus pada kesehatan dan masa depan anak-anak dan remaja di seluruh dunia yang berada di bawah ancaman langsung dari degradasi ekologis, perubahan iklim, dan praktik pemasaran eksploitatif yang mendorong makanan cepat saji yang diproses, minuman manis, alkohol, dan tembakau pada anak-anak.

Foto: Sesi darurat iklim di Festival Sastra Jaipur. (Kiri ke Kanan: Ms. Renata Dessallien, koordinator residen PBB di India; Ms. Namita Waikar, redaktur pelaksana jurnal online PARI; Ms. Shubhangi Swarup, penulis dan pembuat film; Ms. Dia Mirza, Aktris dan Advokat PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan. Kredit: UN India/Yangerla Jamir.

Oleh Devinder Kumar

JAPIPUR (IDN) – Sebagai bagian dari Decade of Action (Jaman Aksi) untuk mempercepat solusi berkelanjutan semua tantangan terbesar di dunia — mulai dari kemiskinan, gender, perubahan iklim, ketidakmerataan, hingga menutup kesenjangan finansial – PBB memanfaatkan alat baru di akhir Januari: festival sastra terbesar dunia di ‘kota merah muda’ India yang terkenal, Jaipur, ibu kota negara bagian Rajasthan yang indah dan hampir magis. Kota ini dikenal sebagai Kota Merah Muda karena warna batu yang digunakan di banyak istana megah dan monumen bersejarah.

Foto: Omid, anak malnutrisi berusia sepuluh bulan yang menderita pneumonia dirawat di Rumah Sakit Anak Mofleh di provinsi Herat, bagian barat Afganistan pada tanggal 29 Januari 2019. © UNICEF/UN0280720/Hashimi AFP-Services

Oleh Sean Buchanan

NEW YOK (IDN) – Pneumonia, penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya, merenggut nyawa 800.000 anak-anak – atau satu anak setiap 39 detik – di bawah usia lima tahun lalu, tetapi pendanaan untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup terus menurun, menurut analisis baru .

Sebagian besar kematian terjadi di antara anak-anak di bawah usia dua tahun, dan hampir 153.000 nyawa terenggut dalam bulan pertama kehidupan, ujar analisis Pendanaan Anak PBB (UNICEF) yang dipublikasikan pada September 2019, berdasarkan perkiraan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Kelompok Estimasi Epidemiologi Ibu dan Anak (MCEE), dan Kelompok Antar Lembaga PBB untuk Estimasi Angka Kematian Anak.

Photo collage: (left to right) Kumnung Chantasit demonstrating how to plant cardamom; An example of how banana trunks and leaves are used to protect the young trees; One of the hard working Thai chickens. Credit: Bronwen Evans.

Oleh Bronwen Evans *

CHANTHABURI, Thailand (IDN) – Umumnya ada dua alasan mengapa para petani Thailand merangkul bahan-bahan organik – alasan pertama adalah dari sisi kesehatan dan alasan lainnya adalah dari sisi ekonomi. Bagi Kumnung Chanthasit, seorang pria berusia 73 tahun, itulah yang terakhir. Dia telah bertani di tanah yang sama di provinsi Chanthaburi di Thailand timur sejak kecil. Terlepas dari tanah vulkanik yang subur, ia mendapati dirinya tenggelam dalam hutang ketika ia berjuang untuk membayar pupuk dan pestisida yang ia butuhkan saat itu.

Foto: Pemandangan Baku, Azerbaijan. Kredit: Katsuhiro Asagiri | IDN-INPS

Oleh Sean Buchanan

NEW YORK (IDN) – Menyusul serangkaian serangan kebencian baru-baru ini di berbagai tempat ibadah di seluruh dunia, sebuah forum dialog antar budaya pada tanggal 2 Mei mengatakan bahwa “dalam semua serangan keji dan pengecut ini... kita melihat pola umum: kebencian terhadap ‘agama lain’. Para penjahat ini membajak seluruh komunitas agama, mengadu domba satu sama lain.”

World Religious Leaders' Astana Congress Pledges 'Unity in Diversity'

Oleh Ramesh Jaura

ASTANA (IDN) – Pada titik krisis ketika toleransi agama diasingkan untuk dilupakan, konferensi internasional telah menyerukan "kepada semua orang dalam iman dan niat baik " untuk bersatu, dan menyerukan "memastikan perdamaian dan harmoni di planet kita ".

Seruan tersebut muncul dari Kongres Pemimpan Agama Dunia dan Tradisional di Astana, kota Kazakhtan, yang didirikan dengan prinsip "persatuan dalam keanekaragaman ". Kongres tersebut ditutup dengan ‘konser perdamaian’, tempat 500 penyanyi paduan suara dari lima benua di dunia ambil bagian.

2030 SDGs Game. Credit: Imacocollabo

Oleh Ramesh Jaura dan Katsuhiro Asagiri

BERLIN | TOKYO (IDN) – Laporan mengatakan bahwa saat Albert Einstein berusia sekitar lima tahun dan terbaring di tempat tidur, ayahnya memberinya sebuah kompas saku magnetik untuk dimainkan. Dia membolak-balikkannya, bertanya-tanya bagaimana jarum itu selalu tahu untuk menunjuk ke arah utara.

Takeo Inamura dan Nobuhide Fukui berbagi rasa ingin tahu yang sama tentang bagaimana 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dari Agenda Tahun 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan, para pemimpin dunia yang menyetujui pada bulan September 2015 di KTT PBB bersejarah di New York, dapat benar-benar mengubah dunia.

Photo: India's top beach destination Goa commits to #BeatPlasticPollution. Credit: World Environment Day.

Oleh Sudha Ramachandran

BANGALORE (IDN) – Rajeswari Singh yang berusia 32 tahun menjalankan misi maraton selama enam minggu pada Hari Bumi Sedunia dengan jarak tempuh sekitar 1.100 kilometer dari Vadodara di India barat hingga sampai di New Delhi pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni, sambil membawa pesan sederhana 'Stop penggunaan plastik', dan menekankan larangan segala jenis minuman atau makanan dengan kemasan plastik.

Faktanya, dia belum pernah menggunakan plastik jenis apa pun dalam satu dekade terakhir. Selain itu, pesan yang dibawanya menggemakan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini – 'Kalahkan polusi plastik' – di mana India, merupakan salah satu di antara sepuluh konsumen plastik terbesar dunia, yang menjadi tuan rumah global.

Foto: ©FAO/Riccardo Gangale

Oleh Jaya Ramachandran

ROMA (IDN) - Produksi makanan di dunia lebih dari cukup untuk memberi makan semua orang, namun 815 juta orang kelaparan, menurut FAO, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Bagaimana cara memastikan agar populasi global yang terus tumbuh—diproyeksikan naik jadi sekitar 10 miliar pada tahun 2050—akan memiliki cukup makanan untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka, dengan demikian merupakan salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia. Para ahli melihat solusi dalam agroekologi.

Page 1 of 3

Striving

Striving for People Planet and Peace 2019

Mapting

MAPTING

Fostering Global Citizenship

Partners

SDG Media Compact


Please publish modules in offcanvas position.